Gol Dzeko Yang Berarti Bagi Spalletti Pemain Itu Sendiri

edin dzeko Luciano spalletti AS Roma, edin dzeko Luciano spalletti, AS Roma, edin dzeko, Luciano spalletti AS Roma, edin dzeko AS Roma, Luciano spalletti
Dzeko dan Spalletti

Sebagai pelatih dari AS Roma, Luciano Spalletti sempat membeberkan bahwa bomber andalan mereka yaitu Edin Dzeko merupakan pemain yang sangat penting dalam menjalankan taktinya terutama dalam hal menghadapi tim yang memfokuskan dirinya dengan skema bertahan.

Tercatat dalam pertandingan pekan ke 21 Serie A di markas mereka sendiri yaitu Olimpico Stadium, Roma sempat dibuat kesulitan dalam menembus pertahanan sang tamu yaitu Cagliari. Laga yang diselenggarakan pagi dini hari tadi akhirnya Roma berhasil mendapatkan poin penuh dengan gol semata wayang yang diberikan oleh Dzeko pada menit ke 55. Walau timnya belum bisa membalap posisi sang klasemen yang dihuni oleh Juventus namun setidaknya mereka bisa terus membayangi Bianconeri dan menunggu mereka lengah.

Sang pelatih mengatakan “Dzeko menjadi fundamental bagi kami saat ini, karena saat lawan bermain rapat, dia satu-satunya yang benar-benar kuat di udara dan memiliki kemampuan secara fisik membuat tanda di kerumunan para pemain bertahan lawan,”.

Dalam pertandingan tersebut memang secara data Roma lebih mendominasi pemainan. Mereka unggul dalam hal penguasaan bola maupun dalam menciptakan peluang. Hanya saja pertahanan yang rapat yang membuat mereka tak bisa dengan mudah membenamkan bola ke gawang mereka.

Bagi Spalletti kemenangan ini sangat penting baginya, Ia mengatakan, “Saya pikir ini adalah kemenangan yang layak. Ada banyak tim yang bisa bangkit kembali di klasemen, seperti Inter yang bangkit begitu cepat, Milan menunjukkan saat melawan Napoli bahwa mereka punya ide bagus dan tentu saja Napoli yang menang pada laga itu,”

Ia menambahkan “Ini jalan panjang sampai akhir dan kami harus menjaga fokus untuk mendapatkan hasil, seperti malam ini, yang mungkin tampak lebih mudah di atas kertas tapi sesuatu yang sangat sulit saat ini,”.

Namun bagi Dzeko gol tersebut merupakan gol yang dihasilkan di markas mereka sendiri yang ke-14 di lintas kompetisi pada musim ini. Dan hal tersebut ternyata Ia merupakan pemain yang menggetarkan gawang lawan terbanyak di Lima liga papan atas Eropa musim ini saat bertanding dimarkasnya. Bahkan catatan tersebut sudah menyamai sang pemain dengan pemain bintang dari Barcelona yaitu Lionel Messi. Messi ternyata juga sudah menyumbangkan gol saat Barcelona bertanding di Camp Nou sebanyak 14 kali, di lintas kompetisi juga.

Walau Kalah Dalam Menciptakan Peluang, Juventus Tetap Menang

Gonzalo Higuain Juventus vs Lazio, Gonzalo Higuain, Juventus vs Lazio, liga italia, serie a
Gonzalo Higuain Juventus

Dalam pertandingan hari minggu tanggal 22 Januari 2017, Juventus melanjutkan perjalanannya menuju titik akhir dalam ajang kompetisi liga Italia Serie A 2016-2017. Dalam pertandingan yang sudah memasuki pekan ke 20 untuknya, mereka sudah dijadwalkan untuk menghadapi peringkat ke 4 di papan klasemen sementara yang diisi oleh Lazio.

Dalam pertandingan tersebut, Juventus berhasil merebut poin penuh dalam pertandingan tersebut dan berhasil menjebol gawang pertahanan yang di jaga oleh Federico Marchetti, Gol pertama dihasilkan oleh Paulo Dybala di menit 5 dan Gonzalo Higuain di menit 17.

Padahal dalam pertandingan tersebut Juventus hanya unggul dalam hal menguasai bola sedangkan Lazio berhasil unggul dalam hal menciptakan peluang. Namun kenyataannya peluang peluang tersebut tak mampu dimanfaatkan dengan baik oleh tim yang diasuh oleh Simone Inzaghi.

Dalam laga ini yang menjadi sorotan adalah ujung tombak Juventus yang baru bergabung pada musim panas kemarin. Higuain merupakan penyerang yang sangat berbahaya dan tak boleh dibiarkan lepat terutama saat berada di dalam kotak penalti. Hal itu dapat dibuktikan dalam pertandingan tersebut. Ia berhasil menjebol gawang lawan dengan, satu kesempatan, satu sentuhan dan satu gol.

Dan itulah harga yang harus dibayar Biancocelesti karena lengah dalam mengawasi pergerakan mantan striker Napoli itu menyambar umpan silang dari Juan Cuadrado dari sisi kanan dan dengan sekali sentuh Ia berhasil membenamkan bola tersebut ke perut gawang lawan.

Namun sang pemain ternyata senang dengan hasil dari strategi yang dilakukan oleh sang pelatih. Ia membuat Juventus semakin tajam dengan taktik penyerangan penuh. Memang dalam pertandingan tersebut sang pelatih Juventus Massimiliano Allegri, menggunakan formasi 4-2-3-1, dan menurunkan pemain andalannya secara bersamaan yaitu Higuain sebagai ujung tombak disusul dengan, Dybala, Mandzukic dan Juan Cuadrado sebagai gelangang serang.

Kepada Sky Sports Italia, Higuain mengatakan “Kami selalu percaya dengan kemampuan kami sendiri. Memang benar bahwa jika kami turun dengan formasi yang sangat menyerang, kami para penyerang juga harus mau turun dan membantu pertahanan. Tapi hari ini kami membuktikan bahwa kami juga bisa bermain dengan menyerang penuh,”.

Ia juga tak meragukan dengan kemampuan timnmya seperti yang diungkapkan media bahwa setelah mengalami kekalahan melawan Fiorentina pada pertandingan sebelumnya, Juventus seperti kehilangan kepercayaan diri. Ia menjelaskan, “Satu-satunya yang ragu hanya media. Kami tahu dan sadar bahwa kami sudah membuat kesalahan dan kemudian membuktikan diri dalam laga selanjutnya. Lazio sama sekali tidak mengancam kami hari ini.”

Inter Berencana Transaksi Besar Tapi Bukan Untuk Messi

Massimo Moratti Inter Milan, Massimo Moratti, Inter Milan,  Lionel Messi, Kostas Manolas, AS roma, Barcelona, Serie A, liga italia
Massimo Moratti – Inter Milan

Massimo Moratti yang pernah menjabat sebagai Presiden Inter Milan, belum lama ini menepis kabar yang mengatakan bahwa Inter akan mengejar tanda tangan salah satu pemain bintang Liga Spanyol yaitu Lionel Messi. Namun Ia membenarkan jika mengenai pembelian pemain berkualitas diawal kompetisi musim depan ,

Kabar tentang pembelian Inter terhadap Messi diungkapkan oleh mantan penyerang Inter yang sudah hengkang ke Racing Club, Diego Milito, yang sempat mengungkapkan jika ada orang yang sanggup membeli Messi dari Barcelona dialah Moratti.

Moratti menjelaskan bahwa bahwa pemilik Inter Milan, Suning Holdings Group saat ini sedang sibuk untuk mempersiapkan dana dalam jumlah besar untuk keperluan transaksi transfer pemain namun bukan untuk Messi.

Moratti mengungkapkan kepada ANSA, “Saya tidak pernah mendengar pembahasan transfer Messi. Memang mungkin mereka (Suning) tengah mempersiapkan transfer besar dalam waktu dekat, tapi mereka tidak pernah berbicara bahwa target transfer mereka adalah Messi,”.

Moratti memang belum lama sempat bertemu dengan para petinggi Suning, namun dalam pertemuan itu tidak membahas masalah transfer. Ia membeberkan dalam pertemuan tersebut, Ia mendapat berita baik karena saat ini Inter memiliki performa yang baik.

Ia pun menambahkan “Soal pertemuan saya dengan Suning, mereka cuma mengundang saya untuk makan siang. Suning bekerja dengan sangat baik, ada atmosfer bagus di klub dan itu terlihat di tim. Pioli adalah pelatih hebat dan hasilnya terbukti di lapangan. Inter sedang dalam periode yang bagus.”

Namun ada kabar lain yang menyebutkan bahwa Inter sedang menyiapkan dana tersebut untuk pemain belakang AS Roma, Kostas Manolas. Bahkan Inter telah mempersiapkan uang senilai 40 juta euro untuk menebus bek rivalnya.

Hanya saja nama Manolas sudah beredar dan diminati oleh beberapa klub Eropa sudah sejak musim panas lalu Dari liga Inggris sudah ada klub yang membidik dirinya seperti Arsenal, Liverpool, Manchester United dan Chelsea. Sedangkan liga lainnya yang ikut turut perburuan akan bek Yunani itu antara lain klub sekelas PSG, Barcelona dan juga Real Madrid.

Namun seperti yang ditulis oleh Mediaset Premium dan beberapa media lainnya menegaskan bawa ternyata sang pemain dan Inter telah melakukan pembicaraan berikut dengan agennya belum lama ini. Dan rencananya Ia akan dihargai sekitar 40 juta euro.

Rahasia Donnarumma Menghadapi Tendangan Penalti

Gianluigi Donnarumma, AC Milan, serie A, liga italia
Gianluigi Donnarumma Vs Andrea Belotti 

Penjaga gawang andalan AC Milan yaitu Gianluigi Donnarumma, baru baru ini mengatakan bahwa dirinya terus bekerja keras dalam sesi latihan agar dapt lebih baik dalam adu penalti. Ia juga sempat membeberkan bagaimana Ia melakukannya.

Nama Donnarumma berhasil berkibar setelah menjadi penjaga gawang utama Milan pada usianya yang masih muda yaitu 17 tahun. Bahkan keahliannya termasuk cukup memukau termasuk dalam hal penyelamatan gawang saat tendangan penalti. Pada musim ini saja Ia terlah berhasil menghalangi tiga laju bola yang menuju gawangnya saat penalti.

Keberhasilan pertama adalah pada saat penalti yang terjadi waktu melawan Torino di pekan pertama Serie A. Ia menghadapi tendangan penalti dari Andrea Belotti dan membuat Milan unggul dengan skor 3-2.

Kemudian yang kedua adalah pada saat Ia menghadapi Juventus. Saat itu tendangan yang dilakukan oleh Paulo Dybala dalam adu penalti di Final Supercoppa Italiana, yang membuat Milan meraih gelar juara pertama mereka sejak 2011.

Dan yang terakhir saat Milan menghadapi Torinoi Serie A pekan ke 20. Tendangan penalti yang dieksekusi oleh Adem Ljajic, berhasil dihalangi oleh pemain yang tingginya hampir 2 meter.

Donnarumma sempat mengatakan rahasianya dalam menjaga gawang timnya “Ada saat-saat ketika anda sedikit kesusahan, tapi saya mencoba untuk tetap berkonsentrasi. Saya harus mengirimkan rasa tenang kepada seluruh tim,”.

Ia pun menambahkan “Saya melakukan banyak pekerjaan dalam latihan penalti dan pada semuanya. Saya mencoba untuk bekejra pada di mana seorang pemain akan menembak. Mungkin juga tinggi badan saya membantu dan karena itu bisa mengisi banyak ruang. Saya mencoba untuk tetap bertahan hingga sampai detik terakhir sebelum lawan menembak dan menjaganya tetap alami,”.

Kemudian pemain asal Italia itu melanjutkan “Hal yang sama berlaku saat penyelamatan dari Sami Khedira saat kami mengalahkan Juventus di San Siro. Saya tak bisa menjelaskan bagaimana saya melakukannya, itu hanya sikap yang datang secara alami pada saya. Saya bekerja keras dalam latihan dan ini semua bermuara pada pengorbanan yang saya buat. Sorak sorai di San Siro setelah penyelamatan itu tak terlukiskan,”

Inzaghi Ingin Kalahkan Juventus Sebagai Pelatih

Lazio, Coppa Italia, Simone Inzaghi, Juventus vs Lazio, Juventus vs Lazio 2016/17, Juventus vs Lazio 22 januari 2017, Juventus vs Lazio Serie A,
peringkat Lazio setiap musim di Coppa Italia

Selaku pelatih dari Lazio, Simone Inzaghi ternyata memiliki keinginan untuk mengalahkan sang jawara musim lalu Serie A yaitu Juventus. Ia ingin meraih hasil yang maksimal dan ingin melanjutkan tren positif mereka saat menghadapi Juventus pada putaran berikutnya, pada hari Minggum tanggal 22 Jaunari 2017.

Memang saat ini lazio sedang memanas. Tercatat di liga Italia Serie A saja dalam 10 pertandingan terakhir mereka mampu memenangkan 7 pertandingan dengan sekali imbang. Dua kali kekalahannya terjadi saat mereka menghadapi AS Roma pada putaran ke 15, dan saat menghadapi Inter Milan dengan pada putaran ke 18. Sayangnya kedua kekalahan tersebut, Lazio tak memberi perlawanan walaupun untuk sebuah gol.

Lazio juga mencatatkan hasil baik pada ajang kompetisi Coppa Italia. Pada pertandingan tadi pagi pun mereka mencatatkan kemenagan saat menghadapi Genoa dengan skor 4-2 dan membuat mereka lolos ke perempat final dimana Inter Milan menunggu mereka untuk bertarung kembali.

Memang keikutsertaan dalam kompetisi Coppa Italia itu sudah menjadi rutinitas tahunan bagi Lazio. Tercatat dari 11 musim, hanya sekali saja mereka tak lolos dari babak 16 besar, pada saat mereka menghadapi klub satu kotanya AS Roma pada musim 2010-2011. Namun selebihnya mereka mampu tiga kali masuk final bahkan sempat menjuarai liga ini sebanyak dua kali.

Hanya saja untuk saat ini sang pelatih lebih fokus dalam mempersiapkan diri mereka untuk berkunjung ke Juventus Stadium. Sang pelatih mengatakan “Kami telah berhasil memenangkan lima dari enam pertandingan terakhir, kalah hanya saat melawan Inter meskipun kami sangat bagus di babak pertama. Namun kami tahu bahwa Juventus memiliki rekor menang di kandang beruntun dan telah mendominasi Serie A selama lima sampai enam tahun, tapi kami hanya bisa memberikan yang terbaik dan melihat apa yang terjadi,”.

Ia menambahkan “Selain taktik, kami harus menafsirkan permainan yang tepat. Saya pikir kami memiliki kinerja yang bagus saat melawan Juventus pada bulan Agustus dan Sami Khedira menghukum kami karena kesalahan kami.  Saya pernah mengalahkan Juventus sebagai pemain dan ingin tahu bagaimana rasanya mengalahkan mereka sebagai pelatih juga,”.

 

Walau Serie A Lebih Sulit, Pjaca Akan Kembali Beraksi

Marko Pjaca Juventus, Marko Pjaca, Juventus, Dinamo Zagreb, Massimiliano Allegri
Marko Pjaca – Juventus

Marko Pjaca yang merupakan pemain sayap dari Juventus Belum lama ini mengatakan bahwa kondisinya kini semakin hari semakin baik dan siap untuk merebut kepercayaan sang pelatih. Hal ini dikarenakan sang pemain yang baru bergabung di musim ini dari Dinamo Zagreb mengalami cedera kaki yang cukup serius.

Cedera yang diawali tanggal 5 Oktober 2016 lalu memakan wakti tiga bulan hingga pulih kembali sampai tanggal 16 Desember 2016 lalu. Namun ia tak lantas dimainkan oleh sang pelatih mereka, Massimiliano Allegri. Ia harus melewatkan tiga pertandingan setelahnya, yaitu saat Juventus menghadapi AS Roma, dan Bologna di Serie A serta saat final melawan AC Milan di Supr Cup Italia.

Setelah pulih, pemain berusia 21 tahun tersebut mengaku siap menampilkan performa terbaiknya kembali. Dan ketika menghadapi Fiorentina dalam ajang komtpetisi Liga italia Serie A, Ia bahkan sempat mendapat pujian dari Allegri walaupun dalam pertandingan tersebut klubnya kalah dalam pertandingan tersebut.

Pjaca mengatakan kepada JTV “Saya merasa dalam kondisi yang baik dan itu bagus untuk kembali beraksi. Kaki saya tak sakit lagi dan sekarang saya harus berlatih keras untuk berada di kondisi terbaik untuk pertandingan,”.

Ia pun menambahkan “Untuk mendengar pujian dari pelatih yang telah diberikan pada saya, secara natural itu membuat saya bangga dan saya bekerja hari demi hari untuk memastikan saya bisa bermain sebanyak mungkin,”.

Pjaca memang masih muda namun performanya cukup baik. Tercatat saat membela klub lamanya dari 2014 hingga 2016, Ia sempat dimainkan 61 kali dan mampu menyumbangkan gol kepada klubnya sebanyak 19 kali. Kemudian Ia direkrut Juventus pada tanggal 21 Juli 2016 dengan tebusan 23 juta Euro dengan masa bakti selama lima tahun. Ia menjadi pemain termahal yang dijual Dinamo Zagreb dan Liga Kroasia, Prva HNL.

Namun pemain berdarah Kroasia tersebut mengakui bahwa bermain di Serie A lebih sulit dibandingkan saat ia bermain di liga kroasia. Perlu konsentrasi tinggi dan penyesuaian diri yang lebih dibandingkan saat bertanding bersama klub lamanya.

Ia mengatakan “Serie A sangat sulit, terutama dalam hal mencari ruang untuk berlari di lapangan. Pergerakan anda harus tepat,”.

Dan terlihat hingga saat ini, Ia baru dimainkan oleh Juventus sebanyak 5 kali dan belum menghasilkan gol untuk klub barunya.

Callejon Raja Assist Italia

Jose Callejon Napoli, Jose Callejon,  Napoli, Serie A, Liga Italia, Mauro icardi, Inter milan
Jose Callejon Napoli

Jose Callejon merupakan pemain sayap yang terkadang berada diposisi penyerang dari klub Napoli. Pemain kelahiran Spanyol ini bergabung dengan Partenopei, sejak 9 Juli 2013 lalu setelah diambil dari klub sebelumnya di liga Spanyol yaitu Real Madrid yang dibelanya selama dua musim.

Callejon memiliki performa yang cukup baik dalam klubnya, walaupun dia bukan  bomber sekelas Cristiano Ronaldo, namun tercatat sudah menyumbangkan 40 gol hingga saat ini dari 127 kali penampilannya bersama Napoli.

Namun sebenarnya yang membuatnya menarik adalah asisstnya saat membantu rekannya dalam menciptakan sebuah gol. Sebelumnya, Ia mencatatkan rekor dengan jumlah assist terbanyak yaitu tujuh kali dalam satu musim di Liga Italia Serie A, akan tetapi pada musim ini ia menambahkan lagi standarnya. Hingga saat ini di Liga Italia Serie A musim 2016/17 ini, Ia bersama Napoli telah mengantongi delapan assit dari 20 pertandingannya.

Berikut adalah catatan tentang jumlah assist yang diberikan untuk timnya dalam liga papan atas Eropa,

  • Musim 2016/17 : 8 bersama Napoli di Serie A
  • Musim 2015/16 : 7 bersama Napoli di Serie A
  • Musim 2014/15 : 3 bersama Napoli di Serie A
  • Musim 2013/14 : 6 bersama Napoli di Serie A
  • Musim 2012/13 : 3 bersama Real Madrid di La Liga
  • Musim 2011/12 : 0 bersama Real Madrid di La Liga
  • Musim 2010/11 : 7 bersama Espanyol di La Liga
  • Musim 2009/10 : 4 bersama Espanyol di La Liga
  • Musim 2008/09 : 0 bersama Espanyol di La Liga

Sampai saat ini Callejon menempati urutan pertama dalam daftar assist untuk sementara waktu. Ia berhasil mengunggul Felipe Anderson (Lazio), Mauro Icardi (Inter Milan) dan sang rekannya di Napoli, Marek Hamsik. Ketiganya terpaut masing satu assist.

Callejon termasuk salah satu pemain penting dalam Napoli musim ini. Hingga kini Ia selain menyumbangkan delapan assist di Serie Am Ia juga telah membantu menggetarkan gawang lawan sebanyak tujuh kali dari 20 pertandingan yang ia ikuti. Sedangkan di Liga Champions musim ini, Ia telah membuahkan satu gol dan satu assist dari enam pertandingan yang diikutinya.

Namun sayangnya dalam Liga Italia Serie A, jika jumlah gol dan assist digabungkan, Ia masih kalah cemerlang dengan Mauro Icardi dari Inter Milan. Walaupn Icardi hanya menyumbangkan enam assist namun ia mampu membantu timnya dengan 14 buah gol hingga saat ini.

Dengan Pelatih Baru, Inter Menang 7 Kali Berturut Turut

Inter milan vs bologna coppa italia, Inter milan vs bologna,  coppa italia, stefano pioli
Inter Milan vs Bologna – Coppa Italia

Piero Ausilio yang merupakan Direktur dari Inter Milan mengakui bahwa klub tak pernah menyesali keputusan untuk merekrut Frank de Boer sebagai pelatih di awal musim. Namun akhirnya sang pelatih dipecat karena belum mampu mendongkrak posisinya ke tempat yang lebih baik.

Memang Frank de Boer ditunjuk sebagai pelatih baru di Inter sesaat menjelang kick off Serie A dimulai. Ia menggantikan tugas Roberto Mancini dalam mengembalikan kejayaan sebagai salah satu raksasa sepak bola Italia yang diperthitungkan lawannya.

Akan tetapi tugas tersebut sungguh berat bahkan untuk seorang legenda Sepak bola Belanda. Dan hanya melatih kurang lebih tiga bulan di Inter, akhirnya Ia harus dilengserkan karena Ia telah membuat Inter kalah dalam tujuh pertandingan dari 14 laga yang dimainkan. Kemudian barulah Inter mencari pelatih sebagai pengganti de Boer dengan Stefano Pioli, mantan pelatih Lazio,.

Sang Direktur pun mengatakan tentang penyesalannya terhadap pilihan mereka, “Tidak, kami tak menyesal. Frank De Boer adalah pelatih bagus. Dia bukan sosok satu-satunya yang bertanggung jawab atas situasi sulit di dua hingga tiga bulan awal musim ini.  dan Sekarang kami hanya perlu menatap ke depan. Sekarang ada Pioli di sini. Ada banyak pelajaran yang dipetik dari sebuah kegagalan. Kami ingin terus melaju seperti ini dan itu adalah yang paling penting,”.

Akhirnya setelah Inter diasuh oleh Pioli, Inter mendapatkan kembali harapannya untuk mendapatkan tempat yang lebih baik. Tercatat mereka sudah memenangkan semua pertandingan  dalam tujuh laga terakhirnya secara berturut turut di di semua ajang. Dan ternyata hal ini adalah hal dimana belum pernah dicapai Inter sejak musim 2012/13 lalu.

Saat itu Inter mencatat sepuluh kemenangan secara berturut turut saat Inter dilatih oleh Andrea Stramaccioni dari pertandingan yang diselenggarakan antara Septermber 2012 0 November 2012.

Pertandingan terakhir Inter terjadi saat mereka menghadapi Bologna di kandangnya sendiri pada tanggal 18 Januari 2017 dini hari tadi. Mereka menghadapi Bologna dalam  ajang kompetiso Coppa Italia 2016/17 yang sudah memasuki babak 16 besar. Mereka akhirnya mampu memenangkan pertandingan dengan skor 3-2 dengan memanfaatkan menit terakhir laga tersebut.

 

CEO Milan Teruskan Negosiasi Untuk Ambil Alih Deulofeu

Adriano Galliani, CEO AC Milan, AC Milan, Gerard Deulofeu, everton, Serie A, Premier league, roneld koeman
Adriano Galliani, CEO AC Milan

Adriano Galliani selaku CEO dari klub sepak bola raksasa AC Milan sempat angkat suara bahwa saat ini pihaknya masih sedang menegosiasikan transfer pemain sayap asal Everton yaitu Gerard Deulofeu.

Pemain berdarah Spanyol itu memang sedang mengalami kendala untuk menempatkan posisinya dalam pasukan inti Everton yang diracik oleh pelatihnya, Ronald Koeman. Padahal pemain muda berusia 22 tahun tersebut ingin mendapatkan jam terbang yang lebih untuk membuktikan bahwa dirinya mampu bersaing dengan rekan rekannya.

Hal inilah yang membuat klub yang dilatih oleh Vincenzo Montella tertarik untuk memanfaatkan kejadian ini. Walaupun sempat ditolak oleh manajemen Everton namun sepertinya tak membuat langkah Milan terhenti. Klub asal Italia ini mencoba dengan cara halus yaitu dengan memberikan pilihan peminjaman kepada sang pemain hingga akhir musim nanti.

Namun pada dasarnya manajemen Everton tak ingin membiarkan Deulofeu pergi dengan status pemain pinjaman semata. Meskipun mantan pemain Barcelona itu jarang digunakan namun Everton masih menganggap dirinya menjadi pilihan utama seandainya tim inti mereka mengalami hal yang tidak diinginkan.

Dan memang beberapa waktu yang lalu sang pelatih Everton sempat berubah pikiran untuk tidak menjual sang pemain, bahkan sempat membatalkan perundingan. Hal ini dikarenakan tiga pemain sayap dari The Toffees tidak dapat merumput untuk sementara waktu. Pemain yang dimaksud adalah Aaron Lennon, Yannick Bolasie dan Dominic Calvert-Lewin yang harus menepi karena cedera yang mereka alami. Namun akhirnya setelah perjuangan panjang, Milan berhasil membuat klub asal Inggris itu berhasil membuka perundungan negosiasi lagi.

Seperti yang diungkap Sportsmole, Gilliano mengatakan “Saya tidak ingin membuat prediksi tentang apa yang Milan bisa raih musim ini, karena saya tidak tahu masa depan, tapi apa yang terjadi sejauh ini sangat baik. Kita bernegosiasi untuk Deulofeu, tetapi belum ada kesepakatan. Everton tahu benar kita hanya dapat melakukan pinjaman atau dengan opsi untuk membeli. Plus ada klausul pro-Barcelona ini,”.

Ia menambahkan “Besok kita akan membahas hal itu dan mencoba untuk menemukan solusi. Kalau tidak kita akan tetap bertahan dengan skuad yang ada sekarang,”.

Wakil Presiden Juventus Ingin Klubnya Balas Dendam Di Pertandingan Berikutnya

Pavel Nedved Vice President Juventus, Pavel Nedved, Vice President Juventus, Juventus, Fiorentina vs Junvetus, Serie A, Liga Italia
Pavel Nedved, Vice President Juventus

Pavel Nedved selaku Wakil Presiden Juventus sempat unjuk suara untuk menepis isu yang terjadi bahwa kekalahan klubnya saat melawan Fiorentina telah diprediksi sebelumnya.

Memang dalam pertandingan kali ini Juventus terpaksa menelan kekalahan setelah mereka menjalani kompetisi Liga Italia Serie A yang sudah memasuki putaran ke 20. Mereka ditekuk Fiorentina dengan skor 2-1 pada tanggal 16 Januari kemarin saat Juventus berkunjung ke kandang Fiorentina, Stadion Artemio Franchi.

Pada dasarnya sang tuan rumah mampu tampil dengan baik terutama pada babak pertama, mereka berhasil menekan permainan Juventus dan unggul dalam hal penguasaan bola maupun dalam meciptakan peluang. Bahkan dibabak pertama tersebut Fiorentina terlebih dulu menghasilkan angka melalui Nicola Kalinic dimenit ke 37. Kemudian pada babak kedua Milan Badelj menambah keunggulan timnya dimenit ke 54 walaupun pada akhirnya gol tersebut dinetralisir melalui tendangan dari Gonzalo Higuain.

Namun pada dasarnya kekalahan itu ternyata tak mengejutkan banyak pihak. Namun sang wakil presiden tersebut membantah berita tersebyt. Ia memastikan bahwa pasukan yang diasuh oleh Massimiliano Allegri masih merupakan tim yang kuat dan kandidat juara Serie A musim ini.

Ia mengatakan kepada JTV “Tak ada pemain yang tampil bagus tapi kita tak boleh membuat hal ini menjadi sebuah drama. Kami ada di sana, kami di posisi pertama dan berjuang untuk meraih Scudetto. Mereka (media) menulis bahwa kekalahan itu sudah bisa diramalkan sebelumnya, namun sejatinya tak demikian. Kami tahu bahwa setiap laga adalah sebuah pertempuran,”.

Dengan kekalahan dari laga tersebut membuat mereka hanya memiliki selisih satu poin dengan runner up klasemen yang diisi oleh AS Roma, namun untungnya Juventus masih memiliki kesempatan lebih untuk mendapatkan poin lagi mengingat mereka punya satu pertandingan yang belum mereka mainkan pada musim ini.

Namun Nedved juga mengharapkan klubnya segera kembali bangkit dan membalaskan dendam pada pertandingan berikutnya.

Ia kembali mengatakan kepada JTV, “Kami akan bermain lagi pada hari Minggu dan berharap bisa menang lawan Lazio. Sulit untuk dipercaya bahwa Juventus akan kalah dalam dua pertandingan beruntun,”